Articles

Sharing insights, one post at a time.

Gandum di Meja Indonesia:
Mengapa Gandum Penting bagi Pangan dan Ekonomi Kita?

Penulis: Fidelia Sihombing | Tanggal Publikasi: 29 Oktober 2026

Gambar 1. Berbagai makanan yang berbahan dasar gandum.

Dalam artikel sebelumnya, kita telah menelusuri perjalanan gandum dari rumput liar di Timur Tengah hingga menjadi salah satu tanaman pangan terpenting dunia. Selama ribuan tahun, domestikasi dan pemuliaan telah mengubah gandum menjadi sumber pangan yang digunakan untuk membuat berbagai makanan lainnya.

Namun, ada pertanyaan menarik ketika kita membaca kisah gandum ke Indonesia. Mengapa tanaman yang begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak pernah kita lihat tumbuh di Indonesia?

Gandum kita temukan dalam semangkuk mi, sepotong roti, hingga gorengan yang dijual di pinggir jalan. Akan tetapi, berbeda dengan padi atau jagung, gandum bukan tanaman yang diproduksi secara komersial di Indonesia. Ketika mencoba memahami peran gandum dalam sistem pangan Indonesia, kita menemukan fakta yang menarik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengimpor sekitar 10,84 juta ton biji gandum dan meslin (campuran gandum dan rye) sepanjang 2025, dengan nilai mencapai US$3,05 miliar. Artinya, jutaan ton biji gandum masuk ke Indonesia setiap tahun, lalu diolah menjadi berbagai produk yang kita konsumsi.

Bagaimana komoditas yang hampir seluruh bahan bakunya berasal dari luar negeri ini dapat menjadi begitu penting bagi masyarakat Indonesia?

Gandum yang Datang dari Berbagai Penjuru Dunia

Gambar 2. Data negar asal impor biji gandum dan meslin Indonesia tahun 2025

Indonesia merupakan salah satu negara yang bergantung pada impor gandum. Laporan Grain and Feed Update yang diterbitkan United States Department of Agriculture (USDA) pada Desember 2025 mencatat bahwa Indonesia tidak memiliki produksi gandum domestik dalam skala komersial dan sepenuhnya mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhannya.

Data BPS menunjukkan bahwa pada 2025 Australia menjadi pemasok gandum terbesar bagi Indonesia, dengan volume sekitar 4,60 juta ton. Berikutnya adalah Kanada sebesar 2,35 juta ton, Argentina 1,43 juta ton, Amerika Serikat 1,06 juta ton, serta Ukraina sekitar 0,87 juta ton. Angka-angka ini menunjukkan betapa luasnya jaringan perdagangan yang menopang kebutuhan gandum Indonesia. Biji gandum yang kemudian diolah menjadi tepung terigu dapat berasal dari ladang pertanian yang terletak ribuan kilometer dari tempat kita mengonsumsinya.

Mengapa Indonesia tidak memproduksi sendiri gandum yang dibutuhkannya?

Salah satu alasannya adalah kondisi lingkungan. Gandum umumnya tumbuh dengan baik di daerah beriklim sedang atau subtropis, dengan karakter suhu dan musim yang berbeda dari sebagian besar wilayah Indonesia. Temperatur tinggi, kelembapan, serta kondisi agroekosistem tropis menghadirkan tantangan bagi pertumbuhan dan produktivitas tanaman ini.

Namun, ketergantungan terhadap impor bukan berarti gandum sama sekali tidak dapat tumbuh di Indonesia. Penelitian budidaya gandum telah dilakukan di berbagai wilayah, terutama dataran tinggi dan menengah. Persoalannya bukan hanya apakah gandum mampu tumbuh, tetapi apakah tanaman tersebut dapat menghasilkan panen yang stabil, produktif, dan layak secara ekonomi.

Sementara penelitian terus berkembang, kebutuhan gandum Indonesia saat ini dipenuhi melalui perdagangan internasional.

Dari Biji Gandum Menjadi Industri Pangan Indonesia

Gambar 3. Skema perjalanan gandum dari negara produsen hingga tiba di meja konsumen

Perjalanan gandum tidak berhenti ketika kapal pengangkutnya tiba di pelabuhan Indonesia. Justru di sinilah rangkaian pengolahan dan kegiatan ekonomi dimulai. Biji gandum yang diimpor masuk ke industri penggilingan untuk diolah menjadi tepung terigu. Dalam proses ini, biji dibersihkan, dipisahkan, kemudian digiling untuk menghasilkan tepung terigu. Tepung terigu selanjutnya digunakan oleh industri mi instan, produsen roti, biskuit, kue, restoran, industri pangan skala kecil dan mikro, hingga rumah tangga.

Menurut APTINDO, pada 2025 industri penggilingan tepung Indonesia terdiri atas 31 pabrik dengan total kapasitas terpasang sekitar 14,8 juta ton. Kapasitas terpasang menggambarkan kemampuan pengolahan yang tersedia, bukan jumlah produksi aktual. Menariknya, laporan yang sama menyebutkan bahwa tepung terigu hasil penggilingan dalam negeri menguasai sekitar 99,9 persen pasar tepung terigu Indonesia. Di sinilah kita menemukan paradoks lainnya. Indonesia tidak memproduksi biji gandum secara komersial, tetapi memiliki industri pengolahan gandum yang besar.

Peran industri ini juga tidak terbatas pada perusahaan makanan berskala besar. APTINDO juga memperkirakan sekitar 71 persen produksi tepung terigu Indonesia digunakan oleh usaha kecil dan menengah. Kelompok ini mencakup pembuat mi basah, pedagang makanan, usaha roti, kue tradisional, serta berbagai usaha pangan lainnya. Artinya, aktivitas ekonomi yang bergantung pada gandum tidak hanya berlangsung di pabrik besar, tetapi juga di toko roti kecil, pasar tradisional, dan warung makanan di sekitar kita.

Gandum menjadi bahan baku yang menghubungkan perdagangan internasional dengan kegiatan ekonomi masyarakat.

Ketika Ketergantungan Menjadi Kerentanan

Gambar 4. Berbagai faktor yang mengancam pasokan gandum global

Besarnya industri pengolahan gandum menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki peran ekonomi penting. Namun, terdapat konsekuensi dari sistem yang sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Ketika bahan baku utama berasal dari negara lain, kondisi produksi dan perdagangan internasional turut menentukan ketersediaan serta biaya pengadaan gandum di Indonesia. Kekeringan di negara produsen dapat mengurangi hasil panen. Konflik geopolitik dapat mengganggu perdagangan dan jalur distribusi. Kebijakan ekspor, biaya pengangkutan, serta perubahan nilai tukar juga dapat memengaruhi harga gandum yang harus dibayar importir Indonesia.

Contohnya konflik Rusia dan Ukraina yang mengganggu pasar pangan dunia pada 2022. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan kenaikan tajam harga serealia internasional, termasuk gandum. Bagi Indonesia, perubahan harga gandum internasional dapat meningkatkan biaya pengadaan bahan baku industri penggilingan. Dampaknya dapat berlanjut pada biaya produksi berbagai makanan berbahan tepung terigu, hingga perubahan harga di tingkat konsumen. Kondisi ini menjadi penting karena gandum telah terhubung dengan kegiatan ekonomi berbagai lapisan masyarakat.

Namun, apakah ketergantungan pada impor selalu berarti ketahanan pangan Indonesia lemah? Tidak sesederhana itu.

Perdagangan internasional memungkinkan suatu negara memperoleh bahan pangan yang sulit diproduksi secara efisien di wilayahnya. Permasalahan muncul ketika pasokan menjadi tidak stabil, harga sulit dijangkau, atau sistem pangan terlalu rentan terhadap gangguan dari luar. Dengan demikian, persoalan yang perlu diperhatikan bukan hanya besarnya impor gandum, tetapi juga bagaimana Indonesia menjaga keberlanjutan pasokan serta mengurangi risiko yang menyertainya.

Bisakah Gandum Tumbuh di Indonesia?

Gambar 5.  Produksi dan peran gandum sebagai fondasi pangan global.

Pertanyaan mengenai kemungkinan menanam gandum di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Penelitian gandum telah dilakukan sejak beberapa dekade lalu. Buku Gandum: Peluang Pengembangan di Indonesia (2016) menjelaskan berbagai upaya pengujian adaptasi dan pemuliaan gandum di lingkungan tropis. Penelitian tersebut menghasilkan sejumlah varietas yang dapat beradaptasi di dataran tinggi dan menengah, meskipun produktivitas serta kestabilan hasilnya masih menghadapi keterbatasan.

Salah satu tantangan utama adalah temperatur tinggi. Pada tanaman gandum, suhu lingkungan memengaruhi berbagai proses fisiologis, mulai dari fotosintesis, pertumbuhan vegetatif, pembungaan, hingga pengisian biji. Ketika suhu terlalu tinggi, proses-proses tersebut dapat terganggu dan akhirnya menurunkan hasil panen.

Di sinilah ilmu tumbuhan dan pemuliaan tanaman menjadi relevan. Peneliti dapat mempelajari keragaman genetik gandum untuk menemukan sifat yang berkaitan dengan toleransi terhadap panas, efisiensi penggunaan air, ketahanan penyakit, serta produktivitas. Melalui seleksi dan persilangan, karakter tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan varietas yang lebih sesuai dengan lingkungan tertentu. Kajian fisiologi tumbuhan juga membantu menjelaskan mengapa varietas tertentu dapat bertahan pada kondisi panas, sedangkan varietas lainnya mengalami gangguan pertumbuhan.

Namun, keberhasilan menumbuhkan gandum dalam percobaan tidak otomatis berarti tanaman tersebut siap dibudidayakan secara luas. Produktivitas, kesesuaian lahan, kebutuhan input pertanian, kompetisi dengan komoditas lain, hingga keuntungan bagi petani perlu dipertimbangkan. Lahan dataran tinggi yang sesuai untuk gandum, misalnya, juga digunakan untuk berbagai tanaman hortikultura bernilai ekonomi.

Oleh sebab itu, penelitian gandum tropis perlu dipandang sebagai upaya memperluas pengetahuan dan pilihan pertanian Indonesia, bukan sebagai jaminan bahwa seluruh kebutuhan impor dapat digantikan oleh produksi domestik.

Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Swasembada

Menurut FAO, ketahanan pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan, kemampuan masyarakat mengaksesnya, pemanfaatan pangan yang aman dan bergizi, serta stabilitas kondisi tersebut dari waktu ke waktu. Dengan demikian impor tidak selalu bertentangan dengan ketahanan pangan. Namun, ketergantungan terhadap impor tetap memerlukan pengelolaan yang baik agar gangguan perdagangan tidak mengurangi akses masyarakat terhadap pangan.

Dalam konteks gandum, Indonesia memiliki beberapa pilihan yang dapat dikembangkan secara bersamaan. Diversifikasi negara pemasok dapat membantu mengurangi ketergantungan pada satu sumber. Penguatan sistem pengolahan, penyimpanan, dan distribusi dapat mendukung keberlanjutan pasokan dalam negeri. Penelitian gandum tropis juga dapat membuka peluang produksi terbatas di lingkungan yang sesuai, apabila hasilnya terbukti layak secara agronomis dan ekonomi.

Di sisi lain, Indonesia memiliki keragaman tanaman pangan lokal yang besar, seperti singkong, jagung, sagu, sorgum, dan berbagai jenis umbi-umbian. Pengembangan bahan pangan tersebut dapat membantu memperluas pilihan sumber karbohidrat masyarakat sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya pertanian lokal. Tentu saja, setiap bahan pangan memiliki karakter yang berbeda. Tepung dari singkong atau sorgum, misalnya, tidak selalu dapat menggantikan tepung terigu secara langsung dalam seluruh produk. Perbedaan sifat pati dan protein memengaruhi tekstur serta karakter adonan sehingga diperlukan penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan. Hal ini menunjukkan bahwa diversifikasi pangan bukan sekadar mengganti satu bahan dengan bahan lainnya. Dibutuhkan pemahaman mengenai sifat biologis tanaman, komposisi biji atau umbi, teknologi pangan, serta kebutuhan konsumen.

Dengan demikian, ketahanan pangan Indonesia tidak harus dibangun melalui satu pendekatan saja. Perdagangan yang terkelola, penguatan industri, pemanfaatan tanaman lokal, dan penelitian pertanian dapat saling melengkapi.

Memahami Gandum, Memahami Masa Depan Pangan Kita

Meskipun gandum bukan tanaman yang umum tumbuh di Indonesia, tetapi perannya telah melampaui batas geografis tempat tanaman ini dibudidayakan. Di balik sepotong roti atau semangkuk mi terdapat rangkaian panjang yang menghubungkan pertanian di negara produsen, perdagangan internasional, industri penggilingan, pelaku usaha pangan, hingga konsumen di Indonesia. Data impor yang mencapai lebih dari 10 juta ton per tahun memperlihatkan betapa pentingnya gandum dalam sistem pangan nasional. Namun, angka ini juga mengingatkan kita bahwa ketersediaan makanan sehari-hari bergantung pada hubungan yang kompleks antara lingkungan, ekonomi, dan aktivitas manusia.

Mempelajari gandum bukan hanya tentang memahami bagaimana tanaman ini tumbuh atau bagaimana bijinya diolah menjadi tepung. Kita juga perlu memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi produksi, bagaimana perdagangan menentukan pasokan, serta bagaimana ilmu pengetahuan dapat membantu membangun sistem pangan yang lebih tangguh. Melalui penelitian fisiologi tumbuhan, adaptasi terhadap cekaman lingkungan, pemuliaan tanaman, dan pengembangan pengetahuan berbasis sains, kita dapat memperluas pilihan untuk menghadapi tantangan pangan di masa depan.

Pada akhirnya, pertanyaan penting bagi Indonesia bukan semata-mata apakah kita dapat menanam seluruh gandum yang kita konsumsi, melainkan bagaimana memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi secara aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Karena di balik makanan sederhana yang hadir di meja kita, terdapat persoalan besar mengenai masa depan pangan Indonesia.

Dari Meja Makan ke Masa Depan Pangan Indonesia

Kisah gandum di Indonesia jauh lebih luas daripada kisah bahan baku tepung terigu. Meskipun hampir tidak diproduksi secara komersial di dalam negeri, gandum telah menjadi bagian penting dari sistem pangan dan kegiatan ekonomi masyarakat. Jutaan ton gandum yang diimpor setiap tahun menghubungkan ladang pertanian di berbagai negara dengan industri penggilingan, produsen makanan, usaha kecil dan menengah, hingga makanan yang hadir di meja kita sehari-hari.

Namun, ketergantungan terhadap pasokan global juga menghadirkan tantangan. Perubahan iklim, konflik geopolitik, gangguan perdagangan, serta fluktuasi harga dapat memengaruhi ketersediaan dan biaya pangan berbasis gandum di Indonesia. Menghadapi kondisi ini, ketahanan pangan tidak harus selalu berarti swasembada. Diversifikasi sumber impor, penguatan industri pangan, pemanfaatan komoditas lokal, serta penelitian adaptasi dan pemuliaan tanaman merupakan berbagai pendekatan yang dapat saling melengkapi untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh.

Di PEFORDEI Research, keterkaitan antara tumbuhan, lingkungan, dan kebutuhan manusia menjadi bagian penting dalam pengembangan ilmu tumbuhan. Melalui kajian fisiologi tumbuhan, respons tanaman terhadap cekaman lingkungan, serta pengembangan dan penyebaran pengetahuan melalui riset kolaboratif dan pendidikan, PEFORDEI Research berupaya menghubungkan sains dasar dengan tantangan nyata pertanian dan ketahanan pangan. Dengan demikian, memahami gandum bukan hanya memahami ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor, tetapi juga membuka perspektif tentang bagaimana ilmu pengetahuan dapat berkontribusi dalam menjaga ketersediaan pangan yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

Gambar 6. Logo PEFORDEI Research

Daftar Pustaka

Let’s Advance Plant Science Together

From research collaborations to training and consultation, we’re here to connect knowledge with impact. Join us in exploring the hidden power of plants for health and sustainability..

Scroll to Top